Pendidikan Anak-Anak

Membuat Bayi Pintar Setelah Melahirkan

Makanan Sebanyak apa pun yang masuk dalam tubuh janin hanya terkait dengan gizi saja. Itu tak cukup bagi bayi untuk pertumbuhan maksimalnya.

Pentingnya Membangun Lingkungan Berkarakter

Terciptanya lingkungan berkarakter sangat mempengaruhi masa depan kepribadian sang anak dan lingkungan sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter-karakter individu yang ada di dalamnya.

Waspadai Bayi Cacat Bawaan Sejak Dini

Kecukupan asam folat pada minggu pertama hingga keempat kehamilan memainkan peranan penting untuk pertumbuhan janin.

Mempersiapkan Masa Puber Sang Anak

Orang tua sebaiknya membangun hubungan selayaknya seorang sahabat kepad anaknya. Mereka harus mengerti jiwa sang anak.

Anak Cerdas Sangat Mahal Harganya

Jangan biarkan anak kita ketinggalan dengan teman-temannya. Jadikan anak kita lebih pintar dari teman-temannya.

Senin, 09 Desember 2013

Membangun Karakter Sejak Pendidikan Usia Dini

Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.

Sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan.

Banyak yang mengatakan keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa jenius otak kita. Semakin kita jenius maka semakin sukses. Semakin kita meraih predikat juara kelas berturut-turut, maka semakin sukseslah kita.

Saya sendiri kurang setuju dengan anggapan tersebut. Fakta membuktikan, banyak orang sukses justru tidak mendapatkan prestasi gemilang di sekolahnya, mereka tidak mendapatkan juara kelas atau menduduki posisi teratas di sekolahnya. Mengapa demikian? Karena sebenarnya kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak kita saja. Namun kesuksesan ternyata lebih dominan ditentukan oleh kecakapan membangung hubungan emosional kita dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Selain itu, yang tidak boleh ditinggalkan adalah hubungan spiritual kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Tahukah anda bahwa kecakapan membangun hubungan dengan tiga pilar (diri sendiri, sosial, dan Tuhan) tersebut merupakan karakter-karakter yang dimiliki orang-orang sukses. Karakter anak tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir. Karakter semacam itu bisa dibentuk. Dan pada saat anak berusia dini-lah terbentuk karakter-karakter itu. Seperti yang kita bahas tadi, bahwa usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak mulai terbentuk. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif dan sukses. 

  • Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini? 

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Dikutip dari:

Cara Membuat Janin Pintar

Makanan Sebanyak apa pun yang masuk dalam tubuh janin hanya terkait dengan gizi saja. Itu tak cukup bagi bayi untuk pertumbuhan maksimalnya.

ngin membuat bayi anda pintar setelah melahirkan? Tentu kita semua sangan mendambakan sang buah hati kita lahir dengan sehat bahkan cerdas. Ternyata mendidik buah hati kita agar menjadi pintar dan cerdas, dapat dilakukan ketika masih dalam kandungan. Banyak cara untuk membuat sang buah hati kita cerdas salah satunya adalah diperdengarkan  musik saat ia masih dalam kandungan. karena menurut para ahli, musik akan mempengaruhi kecerdasan janin.

      Spesialis kebidanan dan kandungan Dr Hermanto Tri Joewono, pernah pula melakukan penelitian bersama dua rekannya drh Esteopangestu dan drh Widjiati MS. Mereka menggunakan tikus sebagai objek penelitian. Metodenya sederhana saja. Sebanyak 24 tikus berusia 4-5 bulan dihitung jumlah sel otaknya dengan melakukan beberapa irisan.

      Sebelumnya, 24 tikus tersebut dibagi secara acak dalam 4 (empat) kelompok. Yakni kelompok pertama kelompok kontrol tanpa pajangan musik, kedua kelompok dengan rangsangan musik klasik, ketiga kelompok dengan pajangan musik gamelan, dan adalah keempat kelompok dengan rangsangan musik dangdut. Cara membuat tikus hamil pun tergolong unik. Sebelumnya, tikus disuntik hormon untuk meningkatkan kesuburan. Selanjutnya, tikus betina itu baru dikawinkan dengan tikus jantan. Selama hamil, empat kelompok tikus ditempatkan pada empat kamar yang berbeda.

      Begitu bayi tikus lahir, barulah dihitung sel otaknya. "Makanya kami menggunakan tikus sebagai objek percobaan. Kalau objeknya manusia jelas tak mungkin. Mana boleh membunuh janin manusia hanya untuk menghitung sel otaknya." Papar Hermanto. Dari penelitian tersebut ternyata diketahui musik klasik paling unggul. Jumlah sel otak setelah mendengar musik klasik bertambah paling banyak di antara yang lain. Di bawak mikroskop tampak jumlah sel otak rata-rata 136,9 buah setiap lapang pandang. Urutan kedua adalah musik gamelan dengan jumlah sel 80,58 buah. Kemudian musik dangdut 70,79 buah. Sedangkan pada kelompok kontrol hanya didapatkan 44,21 sel otak tiap lapang pandang.

      Selama ini, kata dr Hermanto, musik hanya dikenal punya efek penyembuh. Penemuan ini menambah daftar efek positif pada musik. "Ternyata pertumpuhan janin dipengaruhi pula oleh suara. Ini masuk akal. Sebab, makanan sebanyak apa pun yang masuk dalam tubuh janin, hanya terkait dengan gizi saja. Itu tak cukup bagi bayi untuk pertumbuhan," papar Hermanto. Dari sisi neuroscience (ilmu persyarafan), diketahui juga bahwa pertumbuhan otak janin tak hanya dalam hal jumlah saja (proliferasi atau tumbuh makin banyak), tetapi juga migrasi (pindah dari bagian tengah ke pinggir), dan apoptosis (kematian sel). Proses itu berlangsung terus sampai bayi lahir. Setelah bayi lahir, teori terkini mengatakan, tak ada lagi pertumpuhan sel-sel otak terbaru. Yang terjadi hanya regenerasi sel.

Cukup sejam sehari

      Lalu kapan janin sudah bisa mendengar musik dan berapa lama musik mesti didengar selama sehari? Hermanto mengatakan proses mendengar pada janin baru terjadi saat ia berusia 18 minggu. "Di usia itu, jangan tunda untuk memberikan rangsangan suara. Setidaknya pada usia 20-25 minggu," kata Hermanto.

      Jenis musik apa pun bagus untuk rangsangan pertumbuhan otak janin. Tetapi, rangsangan paling bagus adalah musik dengan frekuensi tinggi, seperti klasik. Minimal, luangkan waktu selama 1 jam sehari untuk memberi kesempatan janin mendegarkannya. Lantas, jika musik klasik mampu mempengaruhi sel otak bayi, bukan mustahil lantunan ayat al-Qur'an bisa juga mempengaruhi kecerdasan janin. Buhankan Allah SWT. berfirman: "Hai manusia, jika kamu ragu tentang kebangkitan, maka sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditetapkan." (Q.S. al-Hajj:5)

Tahapan Pendidikan Anak Setelah Melahirkan Sampai Tiga Tahun

Dengan memahami perkembangan-perkembangan anak, kita akan lebih tahu tentang bagaimana cara-cara mendidik mereka. Sehingga tujuan pendidikan kita akan tercapai dengan mudah.

roses perkembangan terhadap anak-anak terjadi sangat cepat. Tiga tahun pertama dalam kehidupan anak-anak merupakan masa yang paling sensitif karena masa tersebut dikaitkan dengan the golden age atau masa pesat perkembangan otak. Pesatnya perkembangan otak dalam periode ini ditandai dengan pertambahan berat otak dari 400 gr di waktu lahir menjadi 3 kali lipatnya setelah akhir tahun ketiga. Oleh karena golden age merupakan masa yang tepat untuk memberi bekal yang kuat pada anak serta menggali potensi kecerdasan anak sebanyaknya. Dalam perkembangan anak, pemberian makanan bergizi jelas sangat penting. Namun harus diperhatikan juga faktor emosi (kasih sayang, rasa aman) dan stimulasi.

      Pentingnya stimulasi dalam perkembangan anak sangat mendukung dalam pendidikan anak-anak. Stimulasi adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan bayi dan anak-anak. Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang kurang kasih sayang dan kurang stimulasi akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya serta kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Stimulasi yang diberikan pada anak selama tiga tahun pertama (golden age) akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan otaknya dan menjadi dasar  pembentuk kehidupan yang akan datang. Semakin dini stimulasi yang diberikan, maka perkembangan anak akan semakin baik. Semakin banyak stimulasi yang diberikan maka pengetahuan anak akan menjadi luas sehingga perkembangan anak semakin optimal. 

      Disebutkan juga bahwa jaringan otak anak yang banyak mendapat stimulasi akan berkembang mencapai 80% pada usia 3 tahun. Sebaliknya, jika anak tidak pernah diberi stimulasi maka jaringan otak akan mengecil sehingga fungsi otak akan menurun. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan anak menjadi terhambat. Dibawah disajikan grafik perkembangan jaringan otak pada anak yang banyak stimulasi dan tanpa stimulasi. Stimulasi Perkembangan Anak Berdasarkan Tahapan Usia:

1.        Bayi 0-1 bulan
o   Ketika bayi rewel dipeluk dengan kasih saying
o   Meletakn benda yang bergerak-gerak di atas bayi
o   Melatih menelungkupkan bayi
o   Mengajak bayi tersenyum
2.        Bayi 1-4 bulan
o   Bayi dipeluk, dicium, dinyanyikan lagu dan dibuainya
o   Bayi diajak bicara, menirukan gerak dan mimik bayi, diperdengarkan suara lainnya
o   Melatih bayi membalik badan (ditelungkupkan
o   Melatih bayi mengenggam
3.        Bayi 4-6 bulan
o   Melatih bayi didudukan
o   Melatih bayi menggunakan kedua tangan memegang benda
o   Melatih bayi menirukan bunyi agar ditirukan
o   Melatih bayi menirukan bunyi (main ci-luk-ba, da-da)
4.        Bayi 6-9 bulan
o   Melatih mengangkat bayi untuk berdiri
o   Melatih bayi memasukan/mengeluarkan benda dari suatu wadah
o   Memperlihatkan gambar dan menyebutkan namanya
o   Mengajak bayi dengan cara/bentuk permainan bersama-sama
5.        Bayi 9-12 bulan
o   Melatih bayi berjalan berdiri
o   Melatih bayi menggelindingkan bola
o   Melatih bayi corat-coret menggambar
o   Mengajak bayi makan bersama keluarga
6.        Bayi 12-18 bulan
o   Malatih anak naik turun tangga (rumah)
o   Bermain melempar dan menangkap bola
o   Melatih menunjuk dan menyebut bagian tubuh
o   Memberi kesempatan anak  melepas baju
7.        Bayi 18-24 bulan
o   Melatih keseimbangan anak berdiri dengan satu kaki bergantian
o   Melatih anak menggambar bulatan, segitiga
o   Melatih anak mau menceritakan apa yang dilihatnya
o   Melatih anak tentang kebersihan diri (buang air kecil/besar pada tempatnya)
o   Mengajak anak bermain bola dan melompatnya
o   Mengajak untuk ikut bernyanyi
8.        Bayi 2-3 tahun
o   Melatih anak berdiri dengan satu kaki
o   Melatih anak menyusun balok
o   Melatih anak mengenal bentuk benda dan warnanya
o   Melatih anak tentang kebersihan diri seperti mencuci kaki, buang air kecil/besar di toilet
o   Melatih anak dibaju sendiri
o   Sering mengajak anak keluar (tempat bermain, toko, kebun binatang, dll)

      Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tahapan perkembangan anak berbeda-beda pada setiap tahapan umur sehingga jenis stimulasi yang diberikan juga berbeda-beda. Berbagai kegiatan yang dilakukan sehari-hari dalam mengurus dan merawat anak dapat menjadi sarana untuk memberikan beraneka jenis stimulasi untuk memicu perkembangan otaknya. Stimulasi yang diberikan akan diterima oleh panca indera dan selanjutnya akan disampaikan ke otak. Bagi otak maupun panca indera anak yang belum mencapai tingkat perkembangan yang optimal, stimulasi tersebut merupakan pelajaran baru. Hal ini akan memicu otak belajar, menganalisa, memahami dan memberikan respon yang tepat terhadap stimulasi tersebut. Kegiatan stimulasi meliputi berbagai kegiatan untuk merangsang perkembangan anak seperti melatih gerakan, bicara, berpikir, mandiri serta bergaul. Stimulasi dapat dilakukan oleh orang tua atau keluarga lainnya. Tujuan stimulasi yaitu membantu anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal atau sesuai dengan yang diharapkan.

      Paul Maclean dalam penelitiannya menguraikan bahwa di dalam otak memiliki tiga fungsi yang disebut tiga dalam satu otak (three in one brain), yaitu batang otak, limbik dan korteks (Maclean, 2005:19). Hubungan ketiganya dalam pendidikan adalah bahwa jika anak dalam merasa terancam, Maka batang otak akan bereaksi melawan atau menghindar, namun apabila anak merasa nyaman dan diterima maka system limbiknya (emosi) terbuka maka pengetahuan dalam hal ini topi berfikir (korteks) akan mudah mendapatkan pengetahuan dan seorang anak dapat berfikir.

Cara Menghilangkan Rasa Takut Sekolah Anak


Tiba-tiba anak mogok tidak mau sekolah. Hujan, diejek teman-teman, dimarahi guru, pelajarannya sulit, kerap kali anak-anak mengemukakan sejumlah alasan ketika mereka tidak ingin pergi ke sekolah.

rangtua yang memiliki anak yang masih duduk di taman kanak-kanan atau sekolah dasar, boleh jadi tak asing lagi menghadapi anak yang enggan bersekolah. Rengekan dan tangisan mereka kadang meluluhkan hati orang tua untuk meloloskan kehendak anak, padahal itu akan menganggu kegiatan sekolah mereka. Psikolog Jacinta F. Rini, dalam website e-psikologi.com, menuturkan bahwa kondisi tersebut merupakan gejala anak terkena fobia sekolah. Anak-anak merasa takut dan tidak mau pergi ke sekolah yang dianggapnya menjadi tempat yang kurang nyaman. Jacinta mengatakan, fobia sekolah merupakan bentuk kecemasan tinggi terhadap sekolah. Perasaan cemas ini biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau akan hilang ketika "masa keberangkatan" sudah lewat, atau di hari-hari libur sekolah.

      Fobia sekolah sewaktu-waktu bisa dialami oleh anak 4-6 tahun, saat anak bersekolah ditempat baru atau menghadapi lingkungan baru. Fobia juga bisa terjadi ketika si anak menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan disekolahnya. Menurut Jacinta, ada beberapa tanda saat anak akan mengalami fobia sekolah. Diantaranya, anak menolah untuk berangkat ke sekolah, atau mau datang ke sekolah tetapi tidak lama kemudian meminta untuk pulang, pergi ke sekolah dengan menangis, menempel terus dengan orang tua atau pengasuhnya, atau menunjukkan tantrum, seperti menjerit-jerit di kelas, agresif terhadap anak lain dan menentang guru agar diizinkan pulang. Juga,  keluhan fisik sering dijadikan alasan, seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, mual, muntah-muntah, diare, gatal-gatal, gemetar, keringatan, atau keluhan lainnya. 'Anak berharap dengan mengemukakan alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di rumah," kata Jacinta.

      Waktu berlangsungnya fobia sekolah amat tergantung pada penanganan yang dilakukan orangtua. makin lama anak dibiarkan untuk tidak masuk sekolah, makin lama pula problem itu akan selesai, dan makin sering keluhan yang dilontarkan anak. Namun, makin cepat ditagani problem biasanya akan berangsur-angsur pulih dalam waktu sekitar 1 atau 2 minggu.

Penyebab Fobia Sekolah

      Ada beberapa penyebab yang membuat anak sering kali mogok sekolah, dan patut berhati-hati bagi para orang tua dan bijaksana dalam menyikapinya. Penyebab pertama, karena separation anxiety atau kegelisahan. Kecemasan itu sebenarnya merupakan fenomenanormal. Bagi mereka, sekolah berarti pergi kerumah untuk jangka waktu cukup lama. Mereka tidak hanya anak rindu terhadap orangtua, rumah, atau mainannya. Tetapi mereka juga cemas menghadapi tantangan, tantangan baru, dan tekanan-tekanan, yang dijumpai di luar rumah. 

     Para peneliti berpendapat, anak akan mempunyai rasa percaya diri rendah berpotensi menjadi anak yang anxiety pronechildren ( anak yang mempunyai kecenderungan mudah cemas) dan cenderung mudah mengalami depresi. Banyak orangtua tidak sadah bahwa sikap dan pola asuh yang diterakan pada anak juga ikut menyumbang terbentuknya dependency (ketergantungan), rasa kurang percaya diri dan kekhawatiran yang berlebihan.

      Selain kecemasan pada anak, penyeban lain bisa dikarenakan sang anak kesal, takut dan malu setelah mendapat cemoohan, ejekan atau gangguan dari teman-temannya. Di samping itu, persepsi terhadap guru yang galak pilih kasih,  atau "seram" membuat anak menjadi takut dan cemas menghadapi guru dan mata pelajarannya.

     Masalahnya, tidak semua anak bisa menceritakan kekesalannya, karena mereka sendiri terkadang masih sulit memahami dan mengekpresikan perasaannya. Belum lagi jika mereka takut dimarahi orangtua karena dianggap beralasan mengada-ada dan tidak masuk akal. Dengan sibuknya orangtua, lantas anak-anak lebih banyak diurus oleh baby sitter atau pengasuh, makin membuat anak sulit menyalurkan perasaannya. Akhirnya yang tampak adalah mogok sekolah, sikap agresif, pemurung, kehilangan nafsu makan, keluhan-keluhan fisik dan tanda-tanda lainnya. Untuk itu bagi orangtua yang memang mempunyai kesibukan yang tinggi dan tidak banyak mempunyai waktu untuk bersama anak-anak dan mendidiknya, maka berhati-hatilah dalam mengangkat seorang baby sitter. Sebaiknya memilih baby sitter yang benar-benar dapat mendidik dan membimbing anak-anak.

      Penolakan terhadap sekolah juga bisa disebabkan oleh problem yang sedang dialami orangtua atau keluarga secara keseluruhan. Misalnya, anak sering mendengar dan melihat pertengkaran antara orangtuanya kemudian menimbulkan tekanan emosional dan mengganggu konsentrasi belajarnya.

      Untuk menyikapi gejala tersebut, orang tua hendaknya bersikap terbuka dalam mempelajari dan mencari semua kemungkinan yang bisa terjadi. Misalnya berkonsultasi dengan guru di sekolah, sharing dengan sesama orangtua murid, diskusi dengan anak, konsultasi dengan konselor atau psikolog, memeriksakan anak ke dokter sesuai keluhan yang dikemukakannya, hingga introspeksi diri yang merupakan metode tertepat untuk mendapatkan gambaran penyebab dari fobia sekolah anak.

      Sementara itu, menurut psikolog Julianti Tarigan, hari-hari menjelang masuk sekolah, memang dapat menimbulkan dua efek pada anak-anak. Senang sekaligus takut. Bila efeknya senang, tidak ada masalah. Namun jika sebaliknya, anak takut, bahkan tiba-tiba ngambek tidak mau bersekolah, itu masalah yang serius dan harus cepat dihadapi. Perilaku senang atau sebaliknya, sebenarnya terbilang wajar. Karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, tandas Julianti. Sesuatu yang baru dapat menimbulkan kecemasan. Itulah sebabnya, sebelum masuk sekolah, orangtua harus harus ikut mempersiapkan diri menghadapi sang buah hati masuk sekolah pertama kalinya.

      Tidak jarang, perilaku orangtua sendiri yang menyebabkan anak menjadi takut dan tidak mau bergabung dengan teman-temannya. Misalnya, orangtua berkata akan meninggalkan anaknya di sekolah setelah hari pertama, atau mencekokoi anak dengan berbagaiaturan. Anak yang menangis atau ngambek, tambah Julianti merupakan ekspresi dari ketidakpercayaan dirinya. "Karenanya, jangan memarahi anak jika ia bersikap demikian. Beri penjelasan, hiburan, dukungan, dan dengan tidak memaksa. Beri waktu kepada anak untuk menyesuaikan diri," Ujarnya. Sayangnya, kerapkali orang tua tidak memahami, bertindak seakan-akan berada di rumah. Dia melakukan tindakan yang terlalu melindungi. Anak diikutinya terus sampai ke kelasnya, dilihat melalui jendela, khawatir kalau-kalau ada yang diperlukan  si buah hati, atau khawatir kalau ia rewel, ada bahasa yang mengancam, dan seterusnya. Akibatnya, anak menjadi merasakan terlalu aman, yang justru kemudian menyebabkannya resah bila tidak melihat orangtuanya.

      "Orangtua perlu menyiapkan diri jauh sebelum anak masuk sekolah", tegas Julianti yang dimaksud menyiapkan diri adalah memahami untuk tidak serba melindungi anak, tidak berpesan 'yang menakutkan' menjelang anak masuk sekolah. "Bila orangtua lebih rileks, tidak berlebihan, anak pun akan lebih tenang di kelasnya," ujar Julianti.

Tips Menghilangkan Rasa Cemas Anak untuk Bersekolah

      Untuk meminimalisasi kecemasan anak, Charles E Schaefer PhD. direktur Pusat Pelayanan Psikologi Farleigh Diekonson University dan Theresa Foy Di Geronimo MEd, asisten guru besar bahasa Inggris William College, New Jersey, memberikan saran-saran penting berikut ini:

      Ceritakan hal-hal yang sangat mungkin terjadi di sekolah. Jika mungkin ajak si kecil mengunjungi calon sekolahnya, sehingga ia mendapatkan informasi yang cukup tentang lingkungan barunya, seperti guru-guru, ruangan, dan murid-murid lain.

      Ceritakan aktivitas anak-anak disekolah tersebut. Berikan penjelasan terhadap si buah hati secara spesifik mungkin, misalnya tentang pelajaran dan kegiatan-kegitan yang menarik apa yang akan dilakukan selama di sekolah. Dengan begitu anak memiliki minat dan gambaran legih jelas tentang apa yang dimaksud dengan sekolah.

      Jelaskan lama sekolah. Karena biasanya anak belum bisa memahami konsep waktu, beri pengertian kepada anak berapa lama ia harus belajar di sekolah. Mungkin ia belum mengerti tiga jam, berikan perumpamaan tiga jam itu. Selain itu, beri informasi tentang berpisah dengan orangtua. Beritahu anak bahwa selama ia bersekolah akan bisa bermain dengan teman-teman dan mempunyai teman yang banyak. Jelaskan juga bahwa di sekolah akan mempunyai guru-guru yang baik yang bisa diajak bermain dan melindungi dari bahaya-bahaya.

      Tentramkan hati si anak. Anak yang ketakutan biasanya mengekspresikan ketakutannya dengan mengisap jempol atau bertingkah aneh. Jaga agar emosi Anda tidak terpancing. Anggap saja ia membutuhkan kata-kata penentram. Bujuk dia dengan kata-kata yang halus dan lembut.

Rozi/beragam sumber.

Waspadai Kartun untuk Anak-anak!

Tak semua film kartun aman untuk anak-anak. Sebab dalam film-film itu sendiri terkadang terselip adegan kekerasan, sek serta mistis.


udaya asing kian marak menyerbu anak-anak Indonesia. Setiap hari mereka disuguhi tayangan kartun dengan tokoh-tokoh dan budaya asing melalui televisi. Ada boneka Barbie, Dora, Avarat, Doraemon, dan lain-lain. Padahal tak semua tayangan itu bermanfaat bagi anak-anak dan bahkan ada yang dapat membahayakan mereka sendiri. Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) telah memberikan rekomendasi kepada orang tua agar berhati-hati terhadap film-film kartun yang telah banyak ditayangkan kepada anak-anak. Menurut YPMA hanya segelincir film kartun yang layak dinikmati oleh anak-anak, semisal Captain Tsubasa, Go!, dan Dora the Explorer.

      YPMA mencatat sedikitnya kini ada 41 film kartun ditayangkan stasiun televisi nasional. Dari jumlah itu, 20 judul ditayangkan pada pukul 13.30 hingga 19.30 WIB setiap hari, saat anak beristirahat siang dan belajar. Karena itulah YPMA menilai film kartun tergolong tayangan yang mesti diwaspadai oleh orangtua.

      Sementara itu Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak. Dr. Seto Mulyadi, mengatakan gempuran budaya asing yang tak terbendung melalui televisi telah menyebabkan anak-anak Indonesia kehilangan idola yang sesuai dengan budaya bangsa. "Anak Indonesia telah kehilangan idola yang digali dari budaya bangsa. tidak seperti dulu ada Gatotkaca atau tokoh lainnya", papar pria yang akrap dipanggil Kak Seto itu kepada Majalah Gontor

      Dia khawatir, penolakan idola dari luar itu bisa melunturkan rasa nasionalisme anak. Padahal, nasionalisme harus dipupuk dari usia dini. "Mungkin, film-film anak yang digali dari budaya kita kurang komersial daripada idola dari luar negri, misalnya tokoh anak-anak dari Jepang, seperti Doraemon, " katanya.

      Untuk menangkal bahaya di balik tayangan impor tersebut, Kak Seto mengingatkan pentingnya peran keluarga untuk membangun idola dan kegemaran anak-anak yang sesuai dengan kultur dan karakter anak Indonesia. "Keluarga merupakan hal yang utama dalam membentuk idola tadi. Misalnya, dengan mendongeng atau membacakan cerita tokoh-tokoh nasional kita kepada anak-anak, "terangnya.

      Catur Wibowo, psikolog dari Universitas Indonesia yang mendalami perkembangan anak, mengatakan anak-anak belajar dari yang mereka lihat sehari-hari, termasuk keterampilan sosial seperti cara berbicara dan menghadapi stres. Bila ingin anak bisa menghargai perasaan dan hak-hak orang lain, harus dimulai dengan menghargai perasaan, minat dan hak-hak anak. "Dampingi selalu anak ketika berinteraksi, termasuk ketika menonton kartun di televisi", paparnya.

      Bila kita menghendaki anak-anak Indonesia tumbuh menjadi anak dengan budaya asli Indonesia, sejak dini mereka harus diperkenalkan dengan tokoh-tokoh idolanya. Misalnya, adalah tokoh-tokoh idola asli Indonesia yang digemari anak-anak kita? Kini, adakah pengganti tayangan Si Unyil dan Si Komo di era 1980-an yang sangat digemari abak-anak?

 
Suryan Badrie?berbagai sumber (Majalah Gontor)