Waspadai Kartun untuk Anak-anak! ~ Pendidikan Anak-Anak

Senin, 09 Desember 2013

Waspadai Kartun untuk Anak-anak!

Tak semua film kartun aman untuk anak-anak. Sebab dalam film-film itu sendiri terkadang terselip adegan kekerasan, sek serta mistis.


udaya asing kian marak menyerbu anak-anak Indonesia. Setiap hari mereka disuguhi tayangan kartun dengan tokoh-tokoh dan budaya asing melalui televisi. Ada boneka Barbie, Dora, Avarat, Doraemon, dan lain-lain. Padahal tak semua tayangan itu bermanfaat bagi anak-anak dan bahkan ada yang dapat membahayakan mereka sendiri. Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) telah memberikan rekomendasi kepada orang tua agar berhati-hati terhadap film-film kartun yang telah banyak ditayangkan kepada anak-anak. Menurut YPMA hanya segelincir film kartun yang layak dinikmati oleh anak-anak, semisal Captain Tsubasa, Go!, dan Dora the Explorer.

      YPMA mencatat sedikitnya kini ada 41 film kartun ditayangkan stasiun televisi nasional. Dari jumlah itu, 20 judul ditayangkan pada pukul 13.30 hingga 19.30 WIB setiap hari, saat anak beristirahat siang dan belajar. Karena itulah YPMA menilai film kartun tergolong tayangan yang mesti diwaspadai oleh orangtua.

      Sementara itu Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak. Dr. Seto Mulyadi, mengatakan gempuran budaya asing yang tak terbendung melalui televisi telah menyebabkan anak-anak Indonesia kehilangan idola yang sesuai dengan budaya bangsa. "Anak Indonesia telah kehilangan idola yang digali dari budaya bangsa. tidak seperti dulu ada Gatotkaca atau tokoh lainnya", papar pria yang akrap dipanggil Kak Seto itu kepada Majalah Gontor

      Dia khawatir, penolakan idola dari luar itu bisa melunturkan rasa nasionalisme anak. Padahal, nasionalisme harus dipupuk dari usia dini. "Mungkin, film-film anak yang digali dari budaya kita kurang komersial daripada idola dari luar negri, misalnya tokoh anak-anak dari Jepang, seperti Doraemon, " katanya.

      Untuk menangkal bahaya di balik tayangan impor tersebut, Kak Seto mengingatkan pentingnya peran keluarga untuk membangun idola dan kegemaran anak-anak yang sesuai dengan kultur dan karakter anak Indonesia. "Keluarga merupakan hal yang utama dalam membentuk idola tadi. Misalnya, dengan mendongeng atau membacakan cerita tokoh-tokoh nasional kita kepada anak-anak, "terangnya.

      Catur Wibowo, psikolog dari Universitas Indonesia yang mendalami perkembangan anak, mengatakan anak-anak belajar dari yang mereka lihat sehari-hari, termasuk keterampilan sosial seperti cara berbicara dan menghadapi stres. Bila ingin anak bisa menghargai perasaan dan hak-hak orang lain, harus dimulai dengan menghargai perasaan, minat dan hak-hak anak. "Dampingi selalu anak ketika berinteraksi, termasuk ketika menonton kartun di televisi", paparnya.

      Bila kita menghendaki anak-anak Indonesia tumbuh menjadi anak dengan budaya asli Indonesia, sejak dini mereka harus diperkenalkan dengan tokoh-tokoh idolanya. Misalnya, adalah tokoh-tokoh idola asli Indonesia yang digemari anak-anak kita? Kini, adakah pengganti tayangan Si Unyil dan Si Komo di era 1980-an yang sangat digemari abak-anak?

 
Suryan Badrie?berbagai sumber (Majalah Gontor)

0 komentar:

Posting Komentar