Orang Tua Adalah Teknologi Paling Canggih dalam Mendidik Anak ~ Pendidikan Anak-Anak

Sabtu, 07 Desember 2013

Orang Tua Adalah Teknologi Paling Canggih dalam Mendidik Anak

Pada zaman yang sangat modern saat ini, di mana berbagai kecanggihan alat telah ditemukan dan dirasakan oleh kita semua. Perkembangan-perkembangan tehnologi ini juga telah masuk pada dimensi pendidikan. Persaingan yang ketat juga telah terjadi di lembaga-lembaga pendidikan di negara kita. Berbagai lembaga pendidikanpun terus berupaya dan mengembangkan diri untuk meningkatkan mutu pendidikan untuk anak didiknya, termasuk dengan meningkatkan teknologi-teknologi pendidikan yang ada di lembaga sekolah tersebut. Namun harus kita pahami kembali, bahwa kecanggihan teknologi itu hanya sebuah alat bantu. Kecanggihan sumber daya manusia lah yang lebih menentukan kemajuan suatu negara.

Mari kita sorot kecanggihan-kecanggihan negara yang sudah maju, misalnya Negara Jepang. Walaupun jepang negara yang sudah sangat maju dan banyak terobosan-terobosan teknologi canggih banyak tercipkan di sana, namun di Negara Jepang hampir semua teknologi yang digunakan di sini tidak terlalu sophisticated. Malahan mungkin bagi sebagian orang Indonesia, berada di jalanan Jepang akan membuat mereka berpikir bahwa sebagian benda-benda yang ada di sana, di Indonesia sudah jadi barang purbakala. Sebut saja telepon umum, misalnya. Atau motor honda bebek tahun 70 yang masih lazim digunakan untuk public service seperti pak pos. Namun kita tidak mungkin bisa mengatakan bahwa SDM yang ada di Negara Jepang lebih purbakala dari pada Negara Indonesia.

Pengembangan SDM sangatlah penting dan salah satu aspek pengembangan SDM tentu saja adalah melalui pendidikan di dalam keluarga. Meski di Indonesia sedang gonjang-ganjing kurikulum 2013 yang kacau balau dan penuh perubahan saya percaya pendidikan itu dimulai dari keluarga, dan tidak ada yang mengatur kurikulum pendidikan dalam keluarga selain keluarga itu sendiri. Selain itu keluarga adalah yang paling luar biasa dari semua lembaga-lembaga sosial manusia, tak ada lembaga sosial lain yang lebih tua dan tak satu pun yang lebih universal dari pada keluarga.

Demikian dikatakan Dr. Dwi Siswoyo, M.Hum. dalam seminar nasional yang diselenggarakan Dharma Wanita UNY di Ruang Sidang Utama Rektorat, Kamis, 2 Mei 2013. Lebih lanjut, Dr. Dwi Siswoyo, M.Hum. mengatakan bahwa peran ibu dalam pendidikan keluarga sangat penting. “Penelitian saya di Penjara Anak Plantungan, Kendal, menunjukkan bahwa anak-anak yang dipenjara pada umur 6–16 tahun, perilakunya menyimpang. Ini disebabkan kurangnya kasih sayang dari orangtua, terutama ibu.

Pendidikan Studi yang dilakukan OECD di Negara jepang, bernama PISA (Programme for International Student Assessment). Salah satu riset mereka menunjukan bahwa peran keluarga khususnya orang tua dalam pendidikan anak menunjukan perbedaan performa yang signifikan pada anak didik. Program ini merupakan riset di berbagai negara baik negara maju maupun berkembang.  Riset ini dilakukan terhadap para pelajar di usia 15 tahun, dari berbagai latar belakang ekonomi (jadi untuk riset di satu negara juga melibatkan kelas bawah dan atas di negara tersebut), dan juga dilakukan wawancara terhadap orang tua mereka. Secara umum, PISA mengevaluasi kemampuan murid di beberapa aspek, misalnya reading dan matematika. Pada artikel ini, lebih difokuskan pada reading skill, yang secara umum berhubungan dengan linguistik skill, dimana skill tersebut berperan sangat penting dalam kecerdasan seseorang. Dalam pendidikan keluarga yang dapat dilakukan orang tua dalam meningkatkan kecerdasan anak antara lain:
  1. Kebiasaan orang tua membacakan cerita untuk anak atau menyanyikan lagu anak atau kegiatan linguistik lainnya dari sejak kecil, menunjukkan perbedaan cukup signifikan pada reading test mereka di usia 15. Ketika anak sudah bisa berkomunikasi secara verbal, kegiatan berkomunikasi melalui percakapan, misalnya menanyakan kegiatan anak hari itu dan menceritakan apa yang dilakukan orang tua juga memberi pengaruh signifikan kelak. Membiasakan percakapan melatih anak berani mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, melatih mereka untuk menyusun pemikiran mereka secara logis dan urut, dan menemukan kata yang tepat untuk mengkomunikasikan pemikirannya. Benefit lain tentu saja bukan hanya dari aspek akademis, tetapi juga meningkatkan kedekatan hubungan orang tua anak, membuat anak merasa dipedulikan dan dihargai.
  2. Diskusi yang lebih kompleks pada usia belasan, meskipun tidak sekuat efek dari kebiasaan membacakan cerita, tetap menunjukkan hubungan yang signifikan dengan reading skill sang anak. Diskusi ini meliputi misalnya diskusi tentang buku, film, televisi, musik, budaya, bahkan sosial maupun politik. Kegiatan seperti ini memacu kesadaran (awareness) tentang stategi belajar efektif, dalam hal ini bagaimana menyimpulkan informasi yang didapat dari lingkungan.
  3. Langsung atau tidak langsung, anak selalu melihat orang tua sebagai role model. Salah satu contoh yang ditemukan dalam riset PISA adalah, anak yang berasal dari keluarga yang orang tuanya menikmati membaca di rumah, menunjukkan kemampuan menyimpulkan (summarizing – tidak hanya teks tetapi juga situasi) yang lebih baik dibanding anak dari keluarga yang orang tuanya tidak menunjukkan hal serupa. Secara umum, adalah penting bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa mereka memberi ‘value’ pada “intellectually engaging activities” seperti membaca. Hal ini misalnya tidak hanya dengan membaca di rumah, tetapi juga pergi bersama ke toko buku atau perpustakaan (ya meskipun untuk kasus Indonesia mungkin hanya toko buku yang memungkinkan). Selain itu, mendiskukan apa yang dibaca juga merupakan satu nilai tambah.
Hal yang penting dalam melaksanakan hal-hal di atas adalah ketertarikan yang tulus (genuine interest) dari orang tua untuk melakukan hal tersebut. Kemudian, hal ini juga berlaku untuk kedua orang tua, tidak hanya salah satu pihak. Orang tua adalah guru pertama, dilanjutkan dengan guru di sekolah, dan di posisi ketiga adalah lingkungan. Pada banyak kasus, orang tua dan pihak sekolah bertemu hanya jika ada masalah. Sekolah memanggil orang tua ketika murid bermasalah di sekolah, atau orang tua mendatangi sekolah ketika anaknya mengalami kesulitan di sekolah. Saya sendiri pernah mendengar keluhan dari guru mengenai sulitnya mengundang orang tua untuk datang ke sekolah misalnya saat sosialisasi tata tertib. Orang tua, misalnya, datang hanya ketika anaknya dihukum akibat melanggar aturan, untuk ’komplain’. orang tua lebih banyak terlibat dengan pihak sekolah misalnya dalam kegiatan volunteering, dsb. Hal ini penting untuk membangun relasi orang tua dan guru. Lebih dari itu, penting bagi sekolah dan orang tua untuk memiliki cara pandang yang sama tentang banyak hal. Misalnya saja tentang aturan. Pada beberapa kasus, anak melanggar aturan sekolah karena orang tua tidak peduli atau malah ikut-ikutan komplain tentang aturan itu. Anak, yang pada dasarnya sedang belajar dari guru pertama dan kedua mereka itu, jadi bingung karena hal yang diajarkan berbeda, yang akhirnya tentu saja mengikuti ajaran ‘guru pertama’ yakni orang tua.

0 komentar:

Posting Komentar